Tentang Impian

Selain lulus, memakai toga dan berfoto wisuda secepatnya, saya menyimpan banyak impian di kepala, di hati dan di catatan-catatan usang saya. Impian saya untuk menjadi seniman tumbuh sejak saya sadar menggambar itu sangat sangat sangat menyenangkan. Mulai dari ingin menjadi mangaka, illustrator, pelukis, tattoo artist, sampai grafik desainer semua ingin saya raih. tapi terlalu muluk-muluk rasanya kalo sebanyak itu, makanya, saya hanya membatasi sampai pada apa yg bisa saya jangkau saat ini saja. Yaitu, mangaka dan illustrator. ingin bisa menjadi mangaka yg menembus, minimal pasar asia, spt Usami Maki.

Setelah lulus, bekerja sebenarnya bukan pilihan yang menyenangkan bagi saya. Tapi semuanya demi saya bisa membayar les ilustrasi sendiri. Selama ini, nggak memilih untuk les ilustrasi krn biayanya terlalu mahal dan pendidikan formal yg harus didahulukan. Makanya, lebih baik mengumpulkan uang sendiri dari hasil bekerja lalu les sepuasnya supaya ilmu dapet tapi nggak membebani orang tua. Sudah lebih dari cukup membuat mereka menderita. Saya hanya ingin membuktikan bahwa saya bisa membuat mereka bangga dengan pilihan saya, itu saja.

Mengapa bekerja bkn pilihan menyenangkan?karena saya masih ingin sekolah seni di luar negeri, beasiswa tentunya. Pilihan saya adalah Hongik University di Korea Selatan:

 atau Amsterdam School of The Arts:


 Kenapa? Karena Hongik merupakan salah satu universitas seni terbaik di Korsel dan karena saya ingin sekali tinggal di Amsterdam. Beasiswa?saya juga nggak tahu, ini hanya impian, masalah pencapaian *angkat bahu*…saya pernah beberapa kali menghadiri pameran beasiswa dan hanya mendatangi booth2 universitas yg ada jur seninya, hasilnya, saya ini hanya anak jurusan hubungan internasional, tdk ada prestasi seni apa-apa, sekolah saja tidak. Dan selalu, saya pulang dengan hati gundah.

Impian saya yang lain adalah tinggal di Eropa, terutama di Belanda atau Amsterdam, meskipun bukan untuk beasiswa seni yang penting positif. Entah udah jadi seniman, ikut suami atau bekerja disana, yang manapun boleh.. nanti disana ingin punya rumah yang minimalis dan ramah lingkungan. Membuat tato di badan sepuasnya, lalu Mengasuh anjing shiba putih atau chow-chow, kucing Balinese atau Ragdoll juga boleh. Dengan senang hati meluangkan waktu melukis hewan-hewan peliharaan impian tadi. Mengadakan pameran lukisan, punya galeri mungil sendiri, menjual lukisan-lukisan lalu uangnya ditabung dan sebagian untuk pulang ke Indonesia. pulang ke rumah kesayangan di Bandung dan memberangkatkan orang tua untuk umroh.

Masih banyak impian yang belum tertuangkan, masih banyak alternatif lain jika ada yg tidak terwujud. Semuanya adalah impian-impian yang saya bangun dari hobi saya selama ini. Menggambar dan memasak itu menyenangkan sedangkan menyayangi hewan dan berbicara dengan mereka itu pelipur lara…itu saja 

“Ini tentang impian. Di pikiran-pikiran yang sudah usang. Ini tentang mencari jalan di lorong temaram”